TAK ADA PANDIT LAGI

TAK ADA PANDIT LAGI | Pandit Football Indonesia

Sepakbola masih permainan yang sama seperti 22 tahun lalu, cara menikmatinya yang telah lain sekali — dan memang akan terus semacam itu.

Tentu banyak yang bisa menyodorkan argumentasi betapa sepakbola telah berubah. Namun, buat aku, tak ada yang betul-betul baru. Invensi dalam taktik, misalnya, jikalau kita membaca dengan cermat sejarah evolusi taktik, hal-hal yang dibayangkan sebagai temuan baru sebetulnya daur-ulang, dengan sedikit penyesuaian, atas hal-hal yang telah dipraktikkan pada dekade-dekade sebelumnya.

Secara taktikal, perubahan mendasar terakhir kali terjadi dikala aturan offside berubah (dari 3 pemain terakhir, lalu dua, dan terakhir menjadi 1 orang pemain terakhir) dan dikala kiper dilarang menangkap bola hasil operan rekannya (back-pass). Setelah itu, segala usaha untuk menemukan hal-hal baru dalam taktik masih berkisar pada satu hal saja: bagaimana caranya mengontrol ruang.

Setelah undang-undang offside berubah, garis pertahanan perlu dinaikkan supaya bisa menjebak lawan dengan offside. Larangan kiper menangkap umpan dari rekannya juga memancing lawan untuk menekan semakin tinggi guna mencari kemungkinan kiper menjalankan kesalahan (dari situ, pemain belakang, malahan kiper, tak senyaman dahulu lagi, dan dipaksa semakin terampil mengendalikan bola dengan kaki).

Karena semakin sedikit arena bermain, semakin sempit pula ruang dan waktu untuk mengirim, mendapatkan, mengolah dan menendang bola. Tempo semakin cepat, pengambilan keputusan yang kilat semakin menentukan, transisi (dari bertahan ke menyerang dan sebaliknya menjadi semakin sering terjadi, sekaligus semakin menentukan, sehingga istilah “sepakbola menyerang” dan “sepakbola bertahan” pada dasarnya tak memadai lagi untuk menjelaskan jalannya permainan.

Keterampilan mengolah bola semakin mekar karena tak banyak ruang untuk melindungi bola (menjaga bola dengan memanfaatkan ruang kosong). Kalau Anda bandingkan cara Garrincha dan Neymar mengolah bola, cukup terang bagaimana trik-trik Neymar jauh lebih kompleks dan canggih. Garrincha punya bunya ruang untuk melarikan bola dari sergapan lawan, kini generasi Neymar mesti melakukannya dalam ruang yang semakin ciut.

Semakin minimnya ruang untuk mengendalikan bola ini menyebabkan, misalnya, arketipe pemain nomor 10 klasik seperti Riquelme menghilang. jikalau ada pemain yang dominan dalam mendistribusikan bola, kebanyakan mesti turun lebih ke dalam, karena di sanalah masih ada ruang-ruang yang tersisa untuk berpikir cukup lama — semacam suaka bagi para pemain-pemikir.

Detail-detail semakin menentukan. peristiwa-peristiwa krusial kadang kala berlangsung semacam itu cepat. Sehingga, jangan heran, banyak hal-hal grande yang justru terjadi dalam momentum-momentum singkat yang hanya berlangsung dalam hitungan detik.

Inilah yang melatari, bersama faktor pertumbuhan teknologi informasi dan media sosial yang akan aku bahas sebentar lagi, yang membikin cara merasakan sepakbola menjadi lain. jikalau tesis utama buku “Simulakra Sepakbola” yakni perubahan sepakbola dari tontonan menjadi tayangan, kali ini situasinya telah berubah lagi. Dari tontonan, menjadi tayangan, lalu konten.

Baca juga:  5 Pemain Bola Prime yang Terkenal Mageran Alias Males Gerak, Nomor 1 Incaran RANS Cilegon FC : Liga Judi

Tontonan berarti: kita mengetahui sekaligus merasakan lantas lomba di lapangan — entah lapangan kampung atau stadion, tarkam atau liga. Tayangan berarti: kita merasakan sepakbola melalui layar — entah layar layar kaca, notebook atau gim. Konten berarti: kita merasakan sepakbola sebagai atau melalui potongan-potongan pendek.

Dengan tontonan, yang kita menikmatinya secara lantas, kita menyaksikan sepakbola sebagai kesatuan yang utuh. Sepakbola tak “disensor” oleh kamera yang cenderung hanya menyorot pemain yang dekat dengan bola. Kita bisa menonton kiper A dikala bola justru sedang mendekati kiper B. Kita bisa menyaksikan pemain dengan postur paling pendek berdiri di garis tengah, dikala timnya sedang Mendapat sepak pojok.

Dengan tayangan, yang kita menikmatinya secara tak lantas, dengan layar sebagai makelarnya, kita menyaksikan sepakbola secara parsial. Kita hanya bisa menyaksikan para pemain yang sedang dekat dengan bola. Industri yang semakin menghebat memungkinkan lomba sepakbola bisa ditonton tiap-tiap hari, kapan saja, di mana saja; semacam itu berbeda dengan dua puluh tahun lalu ketika tayangan sepakbola masih langka.

aku tak hendak merincikan lagi perbedaannya, hal itu bisa Anda baca dalam buku Simulakra Sepakbola; buku yang tampaknya tak akan pernah aku terbitkan ulang (biarlah ia menjadi sejarah). aku hanya hendak menegaskan sedikit saja: Pandit Football Indonesia berdiri pada kurun yang, bagi aku, yakni transisi dari sepakbola sebagai tontonan menjadi tayangan (dalam konteks Indonesia).

Pada 2012, dikala Pandit Football berdiri, Instagram baru merilis apps untuk android, Youtube baru merilis apps untuk iOS, perubahan antarmuka yang menyatukan pengalaman menonton di desktop, notebook dan mobile malah baru timbul setahun kemudian, rataan orang Amerika menonton Youtube per hari baru 15 menit, dan Tiktok baru akan timbul empat tahun selanjutnya.

Pada 2012, kejatuhan Blackberry juga dimulai. dikala itulah, berdasarkan data Statista, untuk pertama kalinya penjualan Blackberry merosot, dan akhirnya jatuh tak terpulihkan.

Secara awam, secara khusus di Indonesia, Blackberry memang yang memulai jaringan Dunia menjadi hal personal yang bisa ditenteng ke mana pun (aku masih ingat, Majalah Tempo pada 2004 memberitakan Blackberry sebagai salah satu fasilitas yang dirasakan para menteri kabinet pertama SBY). Namun karena sistem operasinya hanya bisa dipakai di Blackberry, harga smartphone hal yang demikian masih terhitung mahal bagi kebanyakan. Android yang bersifat inklusif, bisa ditanam di smartphone bikinan bermacam pabrikan, karenanya bisa lebih murah harganya, akhirnya mengambil alih posisi Blackberry.

Baca juga:  Hasil Tim nasional Jerman vs Israel di Laga Uji Coba: Dominan Sepanjang lomba, Der Panzer Menang gampang : Liga Judi


tak persis, memang, karena bukan mistar yang garis-garisnya tegas lagi terang, melainkan bisalah dibilang: 2010-2012 yakni momentum penting yang memungkinkan keterhubungan dengan mobile-Dunia bisa dirasakan oleh lebih banyak orang sebagai perkakas personal.

Pandit Football bisa menemukan audiensnya karena situasi hal yang demikian. Orang-orang memang telah bersiap memasuki cara baru merasakan sepakbola, sebagai tayangan, yang bersifat parsial, dan juga lebih personal. Pembaca sepakbola di Indonesia telah mulai siap untuk menemukan ulasan sepakbola yang lebih detail, statistik yang rinci, dan tilikan yang lebih dalam.

Dalam esai “12 Tahun Menulis Sepakbola”, aku telah kisahkan bagaimana tulisan pertama Pandit Football, yaitu analitik lomba Italia vs Spanyol di Euro 2012, direspons dengan kaget oleh sejumlah kalangan. Kekagetan menemukan analitik lomba yang rinci, penuh dengan chalkboard dan grafis, itu hanya berlangsung sebentar saja. Tak lama kemudian, seiring kemunculan banyak media-media independen lain, seperti Bolatotal atau Footballfandom, orang terbiasa dengan pembicaraan taktik yang analitik.

10 tahun kemudian, pada 2022, cara merasakan sepakbola telah lain lagi. Dunia telah menjadi barang (semakin) murah, streaming legal telah merebak, dan media sosial semakin mantap untuk bercorak audio-visual (baca: gambar bergerak alias video). Penyuntingan video yang masih jadi keterampilan agak langka pada 2012, kini menjadi benar-benar gampang dikerjakan berkat fitur-fitur ringkas yang disediakan bermacam platform. Media sosial berbasis visual dan video, dan bukan lagi sekedar Dunia, membikin klip-klip pendek tersirkulasi dengan gampang dan ringan, nyaris senteng mencuit teks di Twitter.

Bukan kebetulan, semuanya logical: hal itu berjumpa dengan permainan sepakbola yang semakin rapat, intens, karena ruang yang tersedia semakin sempit dan sengit seiring (mula-mula) berubahnya aturan offside dan semakin tingginya garis pertahanan yang dimainkan banyak klub-klub elite. Aksi-aksi singkat, melainkan cantik, membikin konteks taktikal semakin terpangkas keutuhannya dari pemahaman.

aku ingin memberikan ilustrasi melalui, lagi-lagi, media sosial. Tiktok, yang membikin segala platform berbasis visual kalang kabut (dari Youtube hingga Instagram), menghitung views semacam itu video diputar. Bandingkan dengan Instagram (IGTV) yang membutuhkan waktu 3 detik, apalagi Youtube yang membutuhkan waktu hingga 30 detik. Tiktok tetap menghitung views jikalau Anda tak sengaja memutar konten dikala scrolling, padahal Youtube bisa menganggap bot jikalau Anda berpindah video secara acak tanpa benang merah yang terang.

Baca juga:  5 Cara Membentuk Perut Six Pack seperti Cristiano Ronaldo, Yuk Dicoba : Liga Judi

berdasarkan aku, algoritma Tiktok dalam menghitung views mengilustrasikan dengan bagus sekali generasi kini merasakan sepakbola: sebagai konten.

Ulang tahun Pandit Football yang kesepuluh dirayakan dalam situasi seperti itu. Selain urusan model bisnis, inilah hal substansial yang dihadapi oleh segala orang yang memposisikan diri, atau membayangkan dirinya, sebagai pandit (dengan “P” kecil). Secara etimologi, “pandit” berasal dari bahasa sanskrit yang berarti “orang terpelajar”, “pakar”, “sarjana”, “guru” — pendeknya: seseorang yang menguasai sesuatu secara mendalam dan tuntas.

Seorang terpelajar, mereka yang memang terlatih dalam disiplin berpikir kritis, mestinya tahu batas. Semakin banyak yang dibaca, semakin kita sadar banyak hal yang belum diketahui. Pengetahun yakni candu bagi seorang terpelajar. Inilah saatnya untuk memposisikan diri sebagai pembelajar, yang tak lagi membayangkan dirinya sebagai pengajar yang berada di pusat kelas, melainkan bergabung di tempat duduk-tempat duduk yang sebelumnya ditempati kebanyakan orang. Belajar bersama-sama. Saling mendengar dan menyimak. Dan berkolaborasi.

Kita mesti, persisnya aku mesti, yakin betapa tak ada yang lebih jago dari yang lain. Juga tak ada otoritas dalam mendiskusikan sepakbola. Dalam hal ini, pakar telah mati. Bukan seperti yang dibayangkan Tom Nichols, melainkan karena semakin banyak yang pintar, juga cerdas, karena pengetahuan semakin gampang diakses oleh siapa pun yang sudi dan punya hasrat.

Explainer, atau analitik, tak semendesak dahulu. Kini orang bisa cukup hanya dengan secuil aksi yang berlangsung hanya beberapa detik untuk terpuaskan dahaganya akan sepakbola. Ndakik-ndakik menjadi ganjil, semacam fafiwasweswos sahaja, karena yang pokok yakni punchline, juga kesimpulan-kesimpulan pendek. Cara merasakan sepakbola semakin tak membutuhkan argumentasi.

Bukan karena generasi kini semakin bodoh, melainkan justru karena mereka semakin paham sepakbola. Tentu senantiasa akan ada kebodohan, malahan ketololan, dikala membicarakan bola, melainkan bukankah pemain yang (mendadak) berbuat bodoh dan tolol walau berharga mahal juga pernah, sedang, dan akan terus bermunculan dalam lanskap taktik sepakbola yang semakin rigid, detail, dan canggih ini.

Generasi kami, yang agak tua-tua ini, sebagaimana penyakit tiap-tiap generasi, memang sering gampang meremehkan generasi selanjutnya. tak, kita segala setara. Sama-sama bernilai sebagai penikmat sepakbola ataupun sebagai metriks-metriks dalam laporan performa media sosial klub-klub hebat yang kita tonton dengan penuh gairah yang aneh ini.

Nikmati kemenangan judi bola dengan odds terbaik di Liga Judi. Karena kami yakni Agen SBOBET terpopuler di Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.