Rezim Diktator & Dua Gelar dunia Italia

Rezim sewenang-wenang & Dua Gelar dunia Italia

Kegagalan Italia lolos ke putaran final Piala Dunia 2022, bak mimpi buruk di siang bolong. Bagaimana tak, Gli Azzurri (julukan bagi Tim Nasional Italia yang berarti si biru) merupakan salah satu kesebelasan negara tersukses di arena hal yang demikian. Empat bintang yang terpampang di atas logo pada jersey mereka, menjadi bukti dari kedigdayaan tim ini. Negeri Pizza menempati posisi kedua dengan raihan trofi terbanyak dengan empat gelarnya bersama Jerman namun tiga kali dengan Jerman Barat (sebelum merdeka), dan di bawah Brasil yang telah mengoleksi lima gelar.

Banyak yang menasbihkan Italia sebagai tim nasional sepak bola terbaik Eropa sepanjang masa. Mereka menumbangkan Inggris yang senantiasa mengklaim sebagai pencetus sepakbola modern dengan sloganya football coming home, yang baru meraih 1 gelar saja. Namun naas, kegagalan Italia pergi ke Qatar akhir tahun ini, disebabkan oleh sebuah negara yang malah belum pernah mencicipi lolos ke putaran final Piala Dunia.

Ya Makedonia Utara! Negara yang baru merdeka pada 1991 ini, memupus harapan Gianluigi Donnarumma dkk, untuk meraih gelar dunia kelima mereka. Dan yang lebih tragis, juara Piala Eropa 2020 ini mesti keok melalui gol semata wayang dari Aleksander Trajkovski pada menit 90+2 alias masa injury time. Dunia seakan tak percaya, bagaimana bisa tim yang dihuni banyak pemain bintang dan baru saja memenangkan gelar Eropa, mesti keok oleh tim yang isinya tak banyak orang ketahui.

Mulai dari para pendukung, pemain, hingga presiden FIFA tak percaya atas gagalnya Italia menumbangkan Makedonia Utara. Kisah heroik Makedonia Utara hampir mencapai klimaksnya. Mereka bisa lolos apabila sukses menang di laga terakhir menghadapi Portugal. Namun sayang, kisah Daud menumbangkan Goliat tak terjadi dua kali. Timnas yang dihuni oleh Goran Pandev ini mesti mengakui keunggulan Portugal dengan skor 2-0. Dengan hasil ini Makedonia Utara gagal pergi ke Qatar, namun tak dengan pemain terbaik dunia, Cristiano Ronaldo.

Kegagalan Italia pasca Juara 2006

Tendangan pinalti Fabio Grosso yang sukses mengecoh Fabien Barthez, menjadi puncak dari perjuangan Italia untuk meraih gelar keempat mereka. Gegap gempita menyambut kemenangan ini dirasa berbeda oleh para pendukung Italia. Pasalnya, Italia bukanlah unggulan pertama pada turnamen hal yang demikian. Ada nama-nama lain seperti Brasil & Argentina yang mengisi daftar utama. Selain itu, Italia telah lama tak mencicipi partai final dalam bermacam-macam arena.

Baca juga:  Enggak Ingin Kehilangan Bukayo Saka, Arsenal Tawarkan Gaji Fantastis: Liga Judi

Final Piala Dunia terakhir mereka terjadi ketika keok oleh Brasil pada tahun 1994 melalui babak tendangan pinalti juga. ketika itu, sang mega bintang mereka, Roberto Baggio gagal mengeksekusi pinalti dan tendangannya mesti melambung jauh ke udara. Ego besar Baggio dan konfliknya dengan sang pelatih Arrigo Sacchi sepanjang turnamen, menjadi salah satu faktor kegagalan Italia pada ketika itu. Baggio yang baru meraih Ballon D`or & Sacchi yang sukses bersama AC milan, saling bersikeras satu sama lain.

Kisah Italia & Baggio pada 1994 bisa disaksikan di serial “Divine Ponytail”yang tayang di Netflix. Kembali ke Italia masa kini. Pasca juara pada 2006, Italia & Piala Dunia bak kisah cinta yang tak pernah direstui. Keduanya susah tuk bersama meski semesta memberi jalan. Pada 2010 & 2014 Italia mesti angkat koper terlebih dahulu pada fase grup. sekiranya dilihat dari materi pemain, Italia harusnya bisa lolos dengan gampang ke fase selanjutnya.

malah, pada 2010 Italia mesti rela menjadi juru kunci setelah tak pernah menang dalam tiga laga. Semuanya hanya teori di atas kertas semata. Kutukan juara Dunia yang gagal pada fase grup pun dimulai di sini. Berlanjut di 2018 dan yang terbaru pada 2022, Italia malah tak lolos ke putaran final Piala Dunia. Sebuah ironi! Tim peraih gelar terbanyak dari benua Eropa mesti gagal lolos dua kali secara beruntun. Hal ini membikin publik sepak bola bertanya-tanya “apakah Italia hanya jago di masa lalu saja? atau ada faktor lain yang membikin segala ini bisa terjadi?” pertanyaan itu harusnya menjadi pertanyaan besar bagi segala stakeholder sepak bola Italia.

Juara Dunia Dua Kali Bersama Rezim sewenang-wenang.

Sepak bola dan Politik menjadi dua hal yang susah dipisahkan. Keduanya saling membenci namun juga saling membutuhkan. tiap-tiap arena yang menarik banyak perhatian publik, senantiasa sexy untuk dieksploitasi. tak hanya pada arena Internasional, kelas tarkam sekalipun, sekiranya itu banyak diminati publik, politik akan ada di sana. Tak terkecuali Piala Dunia. arena antar Negara 4 tahunan ini menjadi perhelatan olahraga terbesar dunia.

Baca juga:  Gara-Gara Manchester United Gagal sempurna di Liga Inggris serta Liga Champions, Cristiano Ronaldo Terancam Kehilangan Rp94,6 Miliar : Liga Judi

Para petinggi Negara menjadikan Piala Dunia sebagai representasi sebuah bangsa di pentas dunia. Kisah Italia yang sukses meraih dua gelar secara berurutan, menjadi salah satu kisah bagaimana Politik & sepak bola senantiasa hidup berdampingan. Ketika itu, Italia dipimpin oleh seorang Perdana Menteri bernama Mussolini. Sosok yang kejam dan bengis ini dikenal dunia mempunyai haluan fasis. Sang sewenang-wenang menjadikan Piala Dunia 1934 sebagai arena memperkenalkan ideologinya. “Mussolini berkeinginan untuk membentuk citra bangsa italia baru yang berani, atraktif, kuat, dan sportif.” Ujar John Foot dalam buku Calcio, A History of Italian Football.

Italia ketika itu dilatih oleh seorang yang kelak akan melegenda, bernama Vittorio Pozzo. Ia senantiasa menggambarkan buah hati asuhnya sebagai Tentara yang sedang berperang dan lomba sepak bola yakni arena pertempurannya. Kedisiplinan dan rasa patriotis ditanamkan kepada segala pemainnya. Tak ayal, Italia tampil sebagai tim yang agresif, keras, malah brutal. Salah satu bek andalan mereka yaitu Luis Monti, tak segan untuk menghajar lawan-lawan hingga cedera.

Monti yakni salah satu pemain yang mempunyai dua kewarganegaraan. Pada 1930 ia membela timnas Uruguay yang menjadi juara pertama Piala Dunia. Tanpa bantuan II Duce (sebutan bagi sang sewenang-wenang) susah bagi Italia untuk lolos hingga partai final. Pengaruh Mussolini sangatlah besar. malah, ia bisa menunjuk Wasit yang akan memimpin laga Italia. Austria yang ketika itu menjadi unggulan juara, mesti bertemu tuan rumah Italia di semifinal.


Permainan cantik mereka mesti terhenti oleh agresivitas & keunggulan jasmaniah dari Italia. Banyak cerita beredar bahwa sang wasit yang memimpin laga hal yang demikian, bertemu Mussolini sehari sebelum lomba. Italia akhirnya lolos ke babak final setelah unggul tipis 1-0. bermacam-macam kontroversi itu semakin terang di laga final. Menghadapi Cekoslowakia yang tampil impresif pada arena hal yang demikian, laga final ini lagi-lagi dipimpin oleh pengadil yang sama. Di akhir laga, Italia menang dengan skor 3-1, sekaligus meraih trofi pertama mereka.

Bagaimana bisa seorang Wasit muda yang minim pengalaman bernama Ivan Eklind, asal Swedia, memimpin dua laga yang cukup krusial. tak cukup hingga di situ, Piala Dunia 1934 menyajikan banyak cerita kontroversi lain yang membikin sejarah menjadi menarik. Selain ketidakhadiran juara bertahan Uruguay karena bermacam-macam faktor, laga Italia VS Spanyol pada perempat final yang mesti diulang karena hasil seri, menjadi cikal bakal adanya babak tambahan waktu dan babak adu pinalti di masa depan.

Baca juga:  Marselino, Talenta Luar Biasa Milik Persebaya

Terlepas banyaknya kontroversi yang mewarnai Piala Dunia 1934 ini, Italia tetaplah menjadi salah satu tim terkuat pada arena hal yang demikian. Empat tahun berselang atau tepatnya pada 1938, Italia kembali menjadi juara secara back to back setelah menumbangkan Hungaria pada babak final. Piala Dunia kali ini seperti arena pembuktian bagi Italia karena banyaknya tuduhan licik dengan keuntungan mereka sebagai tuan rumah. Piala Dunia kali ini juga melahirkan rivalitas klasik antara Brasil vs Italia yang kelak bersaing menjadi dua negara dengan pengoleksi trofi Piala Dunia terbanyak.

Italia dihuni oleh pemain legenda asal Inter Milan yang namanya diabadikan sebagai nama stadion sangkar mereka, Giuseppe Meazza. Dengan kesuksesannya Italia merengkuh dua gelar Piala Dunia secara mujur, membikin Mussolini semakin percaya bahwa ia dan ideologinya dibutuhkan dunia pada ketika itu. Mussolini jugalah sosok yang membawa Italia ke kancah perang dunia II bersama Adolf Hitler dari Jerman. Namun sayang, Perang di dunia nyata tak sama dengan Piala Dunia.

Pada 1934, Italia secara sah menyerah tanpa prasyarat di Perang Dunia II. berdasarkan surat perjanjian hal yang demikian, Mussolini menyatakan Italia menyerah tanpa prasyarat. Dengan demikian, salah satu aliansi utama Nazi Jerman yang terpenting telah keluar dari medan pertempuran. Setelah era fasisme tumbang, Mussolini mengalami kejatuhan tragis. Pada 28 April 1945, Mussolini dan kekasihnya Clara Petacci dieksekusi oleh kelompok Parisan Italia.

Sebelumnya mereka ditangkap ketika berusaha melarikan diri melintasi perbatasan Italia dan Swiss. bermacam-macam kontroversi dan banyaknya campur tangan pihak lain, tak akan merubah fakta bahwa Italia yakni juara dunia. Karena sejarah hanya akan mencatat siapa sang kampiun, bukan siapa yang keok dengan segala alasannya.

Sumber foto: FIFA

seputar Penulis:

Nama komplit : Toni Sugianto
domisili : Jl. Karees Timur No.152 Bandung
Sosial media : @tonaaiiii (Instagram/Twitter)

Nikmati kemenangan judi bola dengan odds terbaik di Liga Judi. Karena kami yakni Agen SBOBET terpopuler di Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.