Pratinjau Thailand vs Indonesia: Menanti Permainan Adaptif

Pratinjau Thailand vs Indonesia: Menanti Permainan Adaptif

Semifinal SEA Games 2021 mempertemukan Tim Nasional (Timnas) Thailand vs Indonesia di Stadion Thien Truong, Kamis (19/5). Ini merupakan pertemuan ke-14 antara kedua tim di pesta olahraga seantero Asia Tenggara.

Dari 14 pertemuan, Indonesia hanya kapabel memetik tiga kemenangan. Satu kemenangan di antaranya mengantarkan Tim Merah Putih menyabet medali emas kedua pada SEA Games 1991. Hampir seperempat abad lebih semenjak dikala itu, emas belum kembali ke pangkuan Garuda.

Pertemuan penting yang baru-baru ini terjadi merupakan final Piala AFF 2020. Namun Indonesia tak lekas berdaya di hadapan Si Gajah Perang dengan skor 4-0 dan hasil imbang 2-2. Hal itu menambah catatan Indonesia sebagai runner-up di persaingan ASEAN.

telah barang tentu pelatih Indonesia, Shin Tae-yong, tak mau mengulang kesalahan yang terjadi di Piala AFF. Thailand merupakan lawan kuat, karenanya kunci meredam permainannya merupakan dengan bertahan sebaik dan serapi mungkin.

Permainan Atraktif Lini Tengah dan Serang Thailand

Thailand di bawah komando Alexandre Polking bermain atraktif. Patrick Gustavsson dan rekan-rekannya tak jarang bermain dominan dengan mengurung lawan di zona pertahanan mereka. Hal itu tampak terang ketika Thailand melibas Singapura dan Kamboja dengan skor identik 5-0, serta kemenangan tipis atas Laos 1-0.

Si Gajah Perang mempertunjukkan agresivitas lini tengah. Ben Davis, Worachit Kanitsribampen, dan Weerathep Pomphan yang turun bersamaan semenjak menit permulaan, mengatur ritme serangan dari tengah.

Davis, Worachit, dan Weerathep bermain bola-bola datar sebelum meneruskannya ke kotak pinalti atau masing-masing sayap kiri dan kanan. Dari catatan sejauh ini, Davis catatkan satu gol dan satu asis, meskipun Worachit cetak satu gol dan dua asis.

Davis juga menunjukkan kesanggupan individu ketika cetak gol perdana ke gawang Singapura. Pemain Oxford United itu menggiring bola sepanjang garis kedua dan menyelesaikan bola dengan bagus.

Baca juga:  Carlo Ancelotti Positif Covid-19, Real Madrid Akan Didampingi buah hati Don Carlo : Liga Judi

Selain itu, lini serang Thailand juga patut diwaspadai Indonesia. Trio Ekanit Panya, Gustavsson, dan Jakkit Palapon bisa merepotkan barisan pertahanan lawan. Ekanit serta Jakkit punya kecepatan dan bisa memberikan perlawanan tinggi dari sayap.

Gustavsson, yang berstatus pencetak gol terbanyak Thailand, menjadi ujung tombak andalan Gajah Perang. Berpostur badan 187 Centimeter, Gustavsson kerap bergerak dinamis. Pemain keturunan Swedia itu punya ketahanan badan ketika berduel dengan lawannya.

Mungkin tiga gol dari lima penampilan bukan catatan yang bagus bagi Gustavsson. Namun ia juga tak jarang memberikan ruang bagi rekan-rekannya untuk cetak gol. karenanya tak heran, Thailand berstatus sebagai tim paling produktif di SEA Games 2021 dengan torehan 12 gol.

Sisi Lemah Thailand

Kuat bukan berarti tak bisa dikalahkan. Pada laga fase pertama Grup B, Gajah Perang patut mengakui keunggulan Malaysia dengan skor 2-1. Thailand sempat unggul pertama berkat Gustavsson pada menit ke-33. Namun situasi berubah setelah Jonathan Khamdee diusir oleh wasit.

Unggul jumlah pemain semenjak menit ke-41, Malaysia meningkatkan intensitas serangan, terpenting di sisi kiri pertahanan Thailand. Masing-masing dua gol Malaysia dicetak via pemanfaatan lebar lapangan.

Penyerang Malaysia, Danial Asri bergerak tanpa kawalan, sehingga bisa menceploskan bola ke gawang Kawin Thamsatchanan. Malaysia seakan telah menemukan cara untuk membungkam jantung pertahanan Thailand dengan kembali menambah gol.

Polking lalu merespon dengan mengganti beberapa pemain tengah dan depan. Polking menambah jumlah pemain belakang, tercatat Gustavsson ditarik lalu digantikan Anusak Jaiphet. Setelah itu, giliran Ben Davis yang digantikan Nakin Wisetchat.

Namun Malaysia kadung tahu sisi lemah Thailand. Apalagi ditariknya beberapa pemain kunci yang membikin Gajah Perang melemah. Hal itu tampak terang dalam proses gol kedua Macan Malaya berkat kembali memanfaatkan lebar lapangan.

Baca juga:  Legenda Actual Madrid Ini Sebut Rivalitas Cristiano Ronaldo juga Lionel Messi Terbaik Sepanjang Peradaban Sepakbola Dunia : Liga Judi


Bola jauh dikirim dari lini pertahanan Malaysia yang mengarah ke sisi kiri pertahanan Thailand. Syafik Ismail pun menyambut bola dan melepaskan umpan datar ke kotak pinalti. Azfar Fikri Azhar sukses menyelesaikan bola liar.

Komposisi Pemain Terbaru Thailand

Polking hampir mengubah sempurna komposisi pemain Thailand yang dikirim ke SEA Games 2021. Terhitung hanya dua pemain, yakni Jaipetch dan Teerasak Pheiphimai yang telah turut serta serta dengan skuad Thailand dalam Piala AFF U-23 2022.

Sementara, umur dua pemain senior Thailand yaitu Worachit (24), Weerathep (25) tak jauh berbeda dengan mayoritas pemain mudanya. Hanya Kawin Thamsatchnan (32) yang mempunyai rentang umur cukup jauh.

Polking ingin memperbanyak pemain yang penuh pengalaman semenjak umur dini. Dengan demikian itu, Polking tak akan kesulitan untuk mencari talenta-talenta muda, setelah generasi Teerasil Dangda ataupun Chanathip Songkrasin habis.

Indonesia yang Adaptif

Merujuk pada perkataan Shin Tae-yong, Indonesia merupakan tim adaptif. “taktik yang aku terapkan itu tergantung lawan yang [akan] dihadapi,” ungkap Shin usai laga vs Myanmar, Pekan (15/3).

Dengan demikian itu, Shin harusnya punya cara berbeda dalam menghadapi Thailand pada semifinal SEA Games 2021. Sebagaimana Vietnam, Thailand merupakan tim yang punya intensitas serangan tinggi, mencegah lawannya bergerak, dan cepat di tiap sisi.

Namun, Shin tak menurunkan formasi yang cukup bagus demi meredam Vietnam. Indonesia turun dengan formasi 4-3-3 dan terbukti Vietnam bisa melumat Garuda dengan skor telak 0-3. Berkaca dengan kekalahan hal yang demikian, Shin perlu berpikir ulang formasi pantas komposisi pemain.

Demi mengantisipasi permainan Thailand, bisa saja Indonesia memasang lima bek sekaligus, seperti Rio Fahmi, Fachrudin Aryanto, Rizky Ridho, Alfeandra Dewangga, dan Firza Andika. Menumpuknya barisan pertahanan, harusnya bisa meredam serangan lawan.

Baca juga:  Liverpool Temui Benfica di Perempatfinal Liga Champions 2021-2022, Jurgen Klopp Akui Gak Sabar Datang ke Portugal: Liga Judi

Selain itu, Dewangga juga perlu ditarik dari posisi fullback kiri. Ia kerap meninggalkan lubang ketika menolong serangan dan menjadi salah satu target lawan, seperti ketika menghadapi Myanmar.

Benteng pertahanan Indonesia akan semakin kuat seandainya Rachmat Irianto dan Marc Klok dipasang sebagai gelandang bertahan. Keduanya bertugas untuk menjaga ataupun memotong aliran bola Thailand sebelum masuk ke barisan paling belakang Indonesia.

Irianto dan Klok juga perlu awas kepada pergerakan Davis, Worachit, dan Weerathep. Tiga gelandang Thailand itu membongkar pertahanan lawan via operan-operan pendek dari tengah.

Terlebih lagi, Thailand juga memakai garis pertahanan tinggi. Dengan demikian itu, memaksa lawan melepaskan bola dengan cepat. Cara menekan macam itu yang membikin Thailand bisa unggul lebih dahulu.

Namun apabila memperhatikan bagaimana Thailand keok dari Malaysia, Witan Sulaeman, Egy Maulana Vikri, dan Irfan Jauhari patut memanfaatkan kelemahan sang lawan. Sisi kiri pertahanan si kecil asuh Polking merupakan sektor paling lemah.

Nikmati kemenangan judi bola dengan odds terbaik di Liga Judi. Karena kami merupakan Agen SBOBET terpopuler di Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.